Puja Ganesha

Om Gam Ganapatye Namaha

Kamis, 05 Juli 2012

Sejarah Agama Hindu


“Jangan sekali-kali melupakan sejarah!”
Sukarno
Sejarah perkembangan agama Hindu di India dapat kita ketahui dari kitab-kitab suci Hindu yang terhimpun dalam Weda Sruti, Weda Smrti, Upanisad, Itihasa, Purana dan yang lainnya. Selain susastra tersebut, sejarah Hindu juga dapat diketahui pada peninggalan kuno seperti : arca Siwanataraja, meterai berlukiskan burung elang, materai bergambar orang duduk bersila, bekas rumah pemukiman yang tertata dengan baik, Latra, jalan yang lebar, saluran air yang dalam dan lebar, sandal yang terbuat dari bahan kaca, Arca Teracota yang menggambarkan tokoh spiritual, dan lain - lain.
Berdasarkan penemuan peninggalan-peninggalan tersebut di atas membuktikan bahwa perkembangan agama Hindu di India, berlangsung dalam kurun waktu yang sangat panjang.

Peradaban Kuno Lembah Indus
Gelombang migrasi pertama berkisar 14.000 tahun yang lalu menuju anak benua India. Orang – orang Tatar Sunda sedemikian traumanya terhadap banjir di Paparan Sunda sehingga mereka terus bergerak ke utara sampai dihadang sungai besar bagaikan laut, Indus yang megah, atau Sindhu. Sebetulnya juga sindhu dalam bahasa Sansakerta berarti “laut”. Sungai besar ini merupakan gabungan dari Sungai Sengge dan Gar yang berhulu di Himalaya Tibet mengalir melalui India dan Pakistan, bermuara di Laut Arab.
Rombongan para filsuf, ahli kitab, dan pemikir (dengan disertai collective consciousness mereka – ctt.penerj.) tersebut memilih satu tempat aman di pinggir sungai dan menamakan sungai itu Saraswati untuk merayakan Dewi pembimbing mereka, Dewi Ilmu Pengetahuan, Seni dan Musik.
Di pinggir Sindhu Saraswati mereka merenungkan apa yang mereka bawa yang merupakan warisan kuno nenek moyang mereka, yang kemudian warisan ini semakin diperkaya dengan inspirasi-inspirasi segar. Jauh di kemudian hari, sejumlah besar ilmu pengetahuan, seni dan musik ini kemudian disistematisasi oleh Begawan Vyasa dalam Kisah Mahabharata, yang juga dikenal sebagai Kitab-kitab Weda (Kebijaksanaan Utama).
Jadi sebetulnya, yang mengawali Peradaban Lembah Indus, atau Sindhu adalah orang-orang Tatar Sunda, dimana reruntuhannya di Mohen-jo-Daro, Pakistan, dan beberapa tempat di India masih sedang diteliti oleh arkeolog dan atropolog dari seluruh dunia.
Asal Muasal Bangsa Arya à Swastika
Pandangan Barat (Max Muller ) mengatakan bangsa Arya berasal dari Jerman kemudian melakukan invasi ke India di lembah Hindustan yang sudah memiliki peradaban tinggi.
Menurut klaim ini, bangsa Arya Jermanlah yang mambawa swastika ke India. Ada yang mengklaim bangsa Arya berasal dari Persia (Iran) karena bertetangga dengan India (sebelum Pakistan dibentuk).
Berdasarkan penelusuran sejarah penanggalan Weda dan silsilah kerajaan-kerajaan jaman  Purana (Manu), disimpulkan:
Klaim invasi Arya dari Jerman atau Iran hanya Mitos tanpa bukti. Arya bukanlah ras, tapi clan yang menggunakan bahasa dan tradisi Arya. Jika Arya diidentikkan dengan bangsa/ras, maka bangsa Arya  di India sudah ada  pada 10.000 SM. - Bangsa Arya di Indialah yang melakukan “invasi” ke Eropa (termasuk Jerman), Iran, dsb (karena perang, Percekcokkan, mencari wilayah baru, dsb) sehingga swastika tersebar di berbagai negara.
Terbelahnya Jambudwipa
Sekitar 11.500 tahun yang lalu, banjir besar kedua terjadi yang mengakibatkan Paparan Sunda terbelah menjadi beberapa bagian. Dataran tinggi berubah menjadi beberapa pulau, sedangkan dataran rendah terendam lumpur di bawah laut. Paparan Sunda yang tadinya tersambung dengan anak benua India (sekarang terdiri dari Negara India, Pakistan, Bangladesh, Nepal, Myanmar dan Bhutan), menjadi bagian yang terpisah.
Sebelum terbelah pulau utama dikenal sebagai “Jambudwipa”, yang bisa diartikan karena bentuknya yang mirip buah jambu air maupun jambu mede, atau juga karena ukurannya yang “jumbo” dibandingkan pulau-pulau di sekitarnya.
Setelah terbelah menjadi beberapa bagian Paparan Sunda mulai dikenali dengan berbagai nama pulau-pulau. Kisah Ramayana India yang ditulis oleh Begawan Valmiki sekitar 8,000SM, ada menyebutkan Yavadvipa, Java, atau Jawa. Yava sering diartikan sebagai barley putih, atau sorgum, atau juga biji-bijian putih, padi-padian. Hal ini mengindikasikan bahwa Yavadvipa merupakan penghasil padi-padian. (ada beberapa kode yang dapat mengarahkan bahwa Kisah Ramayana terjadi di Jawa, seperti Majalengka di kaki G. Ciremai yang merupakan singkatan dari Maharaja Alengka, maupun Hanoman yang merupakan pengartian Anom yang dalam Bahasa Jawa berarti muda – ctt. penerj. )
Proses menjadi ribuan pulau besar dan kecil berlangsung selama ribuan tahun. Banyak nama baru yang diperkenalkan dan yang paling terkenal adalah Svarnabhumi, atau Svarnadvipa – yang sekarang dikenal sebagai Sumatra, pulau kedua terbesar setelah Yavadvipa, atau Jawa Pra-Sejarah.Svarna dalam Sansakerta berarti “emas”, dan bhumi sebagai “tanah”, sedangkan dvipa berarti pulau. Jadi Svarnabhumi dapat diartikan sebagai “Tanah Penghasil Emas”, dan Svarnadvipa sebagai “Pulau Penghasil Emas”.



1.      Perkembangan Agama Hindu Di India
Perkembangan agama Hindu di India, pada hakekatnya dapat dibagi menjadi 4 fase, yaitu:
1.      Zaman Weda
2.      Zaman Brahmana
3.      Zaman Upanisad
4.      Zaman Wiracarita.

1.      Zaman  Weda
Zaman Weda dimulai sekitar 2500 s.d 1500 tahun sebelum Masehi. Kehidupan umat beragama Hindu pada masa ini didasarkan atas ajaran-ajaran yang tercantum pada Weda Samhita, yang lebih banyak menekankan pada pembacaan/pelafalan ayat-ayat Veda secara oral, yaitu dengan menyanyikan dan mendengarkan secara berkelompok. Weda adalah wahyu Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, yang diyakini oleh umatnya bersifat anadi-ananta yaitu tidak berawal dan berakhir, tidak diketahui kapan diturunkan, berlaku sepanjang zaman.
Namun demikian dikalangan para sarjana Hindu dan Barat seperti : Lokamaya Tilakshastri dan Bal Gangadhar, masing-masing berpendapat bahwa Weda sebagai kitab suci Hindu diwahyukan sekitar ± 6000 tahun sebelum Masehi dan ± tahun 4000 sebelum Masehi oleh para Maharsi. Ada tujuh Maharsi sebagai penerima wahyu Weda, diantaranya :
1.      Grtsamada
2.      Wiswamitra
3.      Atri
4.      Bharadwaja
5.      Wasistha
6.      Kanwa
7.      Wamadewa.
Disamping itu ada juga disebutkan Maharsi lainnya seperti Wiyasa, Swayambhu dan yang lainnya. Reg Veda sebagai Veda tertua, sesungguhnya diwahyukan melalui ratusan Maharsi baik pria maupun wanita. Temuan terbaru menuliskan bahwa setidaknya 30 Rsi Wanita (Rishikas)  ikut berperan dalam penulisan wahyu Rig Veda. Dari ke 30 Rishikas tersebut diantaranya :


1.      Romasa 
2.      Lopamudra 
3.      Apala
4.      Kadru 
5.      Visvavara
6.      Ghosha
7.      Juhu 
8.      Vagambhrini 
9.      Paulomi 
10.  Jarita 
11.  Sraddha-Kamayani
12.  Urvasi 
13.  Sarnga 
14.  Yami 
15.  Indrani 
16.  Savitri 
17.  Devajami
18.  Nodha
19.  Akrishtabhasha 
20.  Sikatanivavari 
21.  Gaupayana.



Note : mengutip dari ‘Why Read Rig Veda’ Sri Aurobindo Kapali Sastry Institute of Vedic Culture
Reg Veda diwahyukan didaerah Punjab, Sama Veda, Yayur Veda dan Atharva Veda diwahyukan didaerah Doab (daerah dua Sungai yakni lembah sungai Gangga dan Yamuna). Pada zaman Weda inilah penulisannya dilaksanakan. Adapun disebut-sebut sebagai penulis Weda antara lain :
1.      Reg Veda ditulis oleh Maharsi Pulaha
2.      Sama Veda ditulis oleh Maharsi Jaimini
3.      Yayur Veda ditulis oleh Maharsi Waisampayana
4.      Atharva Veda ditulis oleh Maharsi Sumantu.
Ciri – ciri Zaman Veda adalah :
1.      Masyarakat memuja 4 Dewa yang popular, yaitu Agni, Varuna, Vayu, dan  Indra. Selain itu juga di puja Dewa lain yaitu Shiva. Diantara keempat Dewa yang popular tersebut, Dewa Agni merupakan Dewa yang  paling popular di puja, Hal ini dikarenakan secara Geografis, lembah sungai sindhu merupakan daerah yang dingin sehingga keberadaan api (Dewa Agni) sangat penting sehingga menjadi Dewa yang sangat popular dikala itu.
2.      Cara pemujaan ditekankan pada pelafalan Veda yaitu dengan menyanyikan dan mendengarkan kidung – kidung suci secara berkelompok
3.      Pengkodifikasian Veda oleh Para Maharsi diperkirakan antara tahun 6000 - 4000 SM. Adapun Maharsi yang menyusun Veda adalah Maharsi Vyasa dibantu oleh para Muridnya. Namun Sabda suci Veda diterima sedikitnya ada 7 Rsi Utama (Sapta Rsi) yaitu, Grtsamada, wisvamitra, Atri, Bharadwaja, Wasista, Kanwa dan Wamadewa.
2.      Zaman Brahmana
Zaman Brahmana ditandai dengan terbitnya kitab – kitab Brahmana sebagai bagian dari kitab Veda Sruti yang disebut dengan Karma Kanda. Kitab – kitab Brahmana berisikan tentang doa – doa serta penjelasan upacara korban dan kewajiban – kewajiban keagamaan. Adapun ciri – ciri Zaman Brahmana adalah :
1.      Masyarakat bersifat Ritualistik karena kehidupan keagamaan dipusatkan pada pelaksanaan ritual. Sehingga upacara yajna mendapat porsi yang dominan.
2.      Para Brahmana atau pendeta menjadi golongan yang terhormat dan berkuasa. Dengan demikian kedudukan kaum Brahmana mendapat perlindungan yang istimewa, seperti yang terjadi pada pemerintahan dinasti Chandragupta Maurya (322 – 298 SM ), di kerajaan Magadha dimana Para Brahmana diposisikan sebagai pembantu Kerajaan.
3.      Organisasi masyarakat seperti Pasraman tubuh dengan suburnya
4.      Perkembangan fungsi pada pemujaan para Dewa
5.      Terbitnya berbagai kitab Sutra
6.      Kehidupan masyarakat dikelompokkan menjadi 4 Ashrama sesuai dengan varna dan dharmanya masing – masing.  Seperti :
·         Brahmacari ashrama
·         Grahasta ashrama
·         Wanaprastha ashrama
·         Sanyasin/bhiksuka ashrama
3.      Zaman Upanisad
Berakhirnya zaman Brahmana dilanjutkan dengan zaman Upanisad. Kehidupan beragama pada zaman ini bersumber pada ajaran-ajaran kitab Upanisad yang tergolong kitab-kitab Weda Sruti yang dijelaskan secara filosofis. Pada zaman ini pula konsepsi akan keyakinan terhadap Panca Sradha dijadikan titik tolak dan penentu dalam penerapan  ajaran agama oleh para arif-bijaksana dan para Maharsi. Disamping itu konsepsi tujuan hidup dan tujuan agama (Catur Purusartha dan Moksartham jagadhita ya caiti dharma) diformulasikan menjadi lebih jelas lagi. Kata Upanisad terdiri dari kata Upa-Ni-Sad. Upa berarti dekat, Ni merupakan bentuk kata yang artinya disamakan dengan Guru, dan Sad berarti duduk. Sehingga Upanisad berarti duduk dekat dengan Guru untuk menerima wejangan-wejangan suci yang bersifat rahasia. Ajaran Upanisad hanya diberikan oleh para Guru kepada murid-murid yang setia dan patuh dan biasanya bertempat di tengah hutan dengan jumlah yang terbatas dengan system pasraman. Ajaran Upanisad disebut pula dengan nama rahasiopadesa atau aranyaka yang artinya ajaran rahasia yang ditulis di tengah hutan. Adapun isi pokok ajaran upanisad itu adalah berhubungan dengan pembahasan tentang hakekat Panca Sradha Tattwa. Kitab upanisad berjumlah 108 kitab.
Zaman Upanisad ini muncul sebagai protes terhadap ritual keagamaan yang berkembang pada zaman Brahmana. Kejenuhan terhadap ritual menyebabkan masyarakat mengalihkan diri pada ajaran – ajaran Upanisad. Adapun ciri – ciri zaman Upanisad adalah :
1.      Masyarakat mengedepankan hal – hal yang bersifat filosofis
2.      Munculnya system berguru yang disebut Upanisad (Upa : dekat, Ni : kata Ganti untuk Guru, Sad : duduk, Duduk dekat Guru ). Dengan sistim ini, kemudian melahirkan berbagai system filsafat. Terdapat 9 sistem filsafat yang disebut dengan Nawa Darsana yang kemudia dibagi menjadi 2 bagian utama yaitu Astika dan Nastika.


a.       Kelompok Astika
(Sad Darsana)
·         Nyaya
·         Waisasika
·         Mimamsa
·         Samkhya
·         Yoga
·         Vedanta


b.      Kelompok Nastika
(Tri Darsana)
·         Buddha
·         Carwaka
·         Jaina


3.      Pengembangan dan penyusunan falsafah agama
4.      Lahirnya tokoh – tokoh revolusioner dibidang agama seperti Shankaracharya dengan filsafat Advaita Vedanta, Madvacharya dengan Dvaita Vedanta dan Ramanujacharya dengan filsafat Visista Dvaitanya

4.      Zaman Viracarita
Jaman Wiracarita (600 SM – 200 SM), meliputi perkembangan antara kesusasteraan Upanisad yang tertua dan sistem-sistem filsafat (darsana). Kitab Ramayana dan Kitab Mahabarata menjadi alat untuk menyebarkan cita-cita baru, yaitu mengenai sifat dan ciri-ciri kepahlawanan dan kedewataan dalam hubungan insani atau kemanusiaan. Sistem-sistem dari agama Budha, Jainisme, agama Siwa, agama Wisnu termasuk juga dalam periode ini. Pada jaman ini juga sudah dimulai timbulnya sutra-sutra. Sejak jaman Purana, pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti menjadi umum.

2.      Perkembangan Agama Hindu di Negara Lain

1.      Mesir (Afrika)
Sebuah prasasti dalam bentuk inkripsi yang berhasil di gali di Mesir berangka tahun 1280 S.M. Isinya memuat tentang perjanjian antara raja Ramases II dengan bangsa Hittite. Dalam perjanjian yang dilaksanakan oleh Raja Ramases II dengan bangsa Hittite tersebut, Maitravaruna sebagai dewa kembar dalam Weda telah dinyatakan sebagai saksi. Maitravaruna adalah sebutan dari Tuhan Yang Maha Esa dalam Theologi agama Hindu. Raja-raja Mesir dijaman purbakala mempergunakan nama-nama seperti: Rameses I, Rameses II, Rameses III dan seterusnya. Tentang Kata Rameses, mengingatkan kita kepada Rama yang terdapat dalam kitab Ramayana.
2.      Mexico
Mexico terbilang negeri yang sangat jauh dari India. Masyarakat negeri ini dikatakan telah terbiasa merayakan sebuah hari raya pesta-ria yang disebut dengan hari Rama-Sita. Waktu hari pesta-ria ini memiliki hubungan erat dengan waktu hari suci Dussara atau Navaratri dalam agama Hindu “India”.  Penduduk jaman purbakala yang ada di daerah-daerah “Mexico” adalah orang-orang Astika yaitu orang-orang yang percaya dengan keberadaan Weda. Festipal Rama-Sita yang dirayakan oleh masyarakat Mexico dapat disamakan dengan perayaan hari Dussara atau Navaratri. Penemuan patung Ganesa kita hubungkan dengan arca Ganesa sebagai putra Dewa Siwa dalam mithologi Hindu. Masyarakat Astika adalah suku bangsa Aztec itu sendiri yang kebanyakan memuja Dewa Siwa.

3.      Kota Kalifornia
Kalifornia adalah sebuah Kota yang terdapat di Amerika. Nama Kota ini diperkirakan memiliki hubungan dengan kata Kapila Aranya. Di Kota Kalifornia terdapat Cagar Alam Taman Gunung Abu “Ash Mountain Park” dan sebuah Pulau Kuda “Horse Island” di Alaska - Amerika Utara.
Kita mengenal kisah dalam kitab Purana tentang keberadaan Raja Sagara dan enam puluh ribu (60.000) putra-putranya yang dibakar habis hingga menjadi abu oleh Maharsi Kapila. Raja Sagara memerintahkan kepada putra-putranya untuk menggali bumi menuju ke Patala-loka dalam rangka kepergian mereka mencari kuda untuk persembahan. Oleh putra-putra Raja Sagara, kuda yang dicari itu diketemukan di lokasi Maharsi Kapila mengadakan tapabrata. Oleh karena kedatangan mereka “Putra Raja Sagara” mengganggu proses tapabrata beliau, akhirnya Maharsi Kapila memandang putra-putra raja itu dengan pandangan amarah sampai mereka musnah menjadi abu.
Kata Patala-loka memiliki arti negeri dibalik India, yaitu benua Amerika. Kala Kalifornia memiliki kedekatan dengan kata Kapila Aranya. Kondisi ini memungkinkan sekali karena secara nyata dapat kita ketahui bahwa di Amerika terdapat cagar alam Taman Gunung Abu yang kemungkinan sekali berasal dari abunya putra-putra raja Sagara yang berjumlah enam puluh ribu dan nama pulau kuda yang diambil dari nama kuda persembahan raja sagara.

4.      Australia
Penduduk negeri Kangguru ini memiliki jenis tarian tradisional yang disebut dengan “Siwa Dance” atau “Tari Siwa”. Siwa Dance adalah semacam tarian yang umum berlaku diantara penduduk asli Australia.

5.      Asia Tenggara
1.      Kamboja
Bukti pengaruh Hindu di Kamboja yaitu berupa peninggalan purba seperti Angkor Wat yang dibangun oleh Raja Suryavarman II, ini adalah candi Hindu yang berada di daerah Siam Reap, Cambodia. Angkor Wat didedikasikan untuk Dewa Vishnu, candi ini sangat besar dan luas sehingga difungsikan sebagai sebuah kota dengan berbagai keperluan. Selain angkor Wat, masih ada temuan lain berupa patung Ganesha, Shivalingga dan Apsaras

2.      Thailand
Pengaruh Hindu di Thailand dibuktikan dengan penggunaan burung Garuda kendaraan Vishnu sebagai lambang nasional kerajaan Thailand, selain itu pembangunan Patung Ganesha yang sangat besar terdapat di Pusat Perdagangan dunia di Thailand. Disamping itu, pembangunan Samudra Manthana di Suvarnabhumi International Airport, Bangkok yang diangkat dari kisah Purana. Bukti lain akan adanya pengaruh Hindu adalah patung Phra Phrom yang merupakan representasi dari Brahma, kuil Dewi Lakshmi di Gaysorn Plaza, kuil Tri Murti di Central world Mall Bangkok, Lukisan Epos Ramayana versi Thailand di Grand Palace, Thailand juga memiliki ibu kota kerajaan kuno yang disebut dengan Ayodhya. Ada juga Wat Kamphaeng Laeng, di daerah Petchaburi
3.      Vietnam
Pengaruh Hindu di Vietnam dibuktikan dengan peninggalan berupa Patung Raja Cham berkepala Shiva yang terbuat dari  elektrum sekitar 800 SM. Selain itu, peninggalan berupa candi yang berisi hiasan/tulisan  mengenai kejayaan Kerajaan Hindu Kuno di Vietnam Selatan yaitu kerajaan Champa. Saat ini, sangat sedikit komunitas Hindu yang bertahan di Vietnam. Populasinya berkisar sekitar 50.000 jiwa.
4.      Malaysia dan Singapura
Malaysia memiliki beberapa kantung Hindu seperti Kadaram, Ganga-nagara and  Kota Linggi. Pada periode yang sangat jelas, yakni pada masa kekuasaan kerajaan Srivijaya dan kerajaan CholasKerajaan Kadaram di Malaysia, digunakan sebagai pelabuhan oleh kerajaan Srivijaya dan kemudian kerajaan Chola. 
Selain itu, di Malaysia berdiri Patung Dewa Kartikeya yang merupakan patung tertinggi di dunia. Masyarakat Hindu di Malaysia dan Singapura merupakan masyarakat imigrasi dari India sejak 150 tahun yang lalu.




5.      Indonesia
Dari India pengaruh agama Hindu menyebar ke seluruh dunia, dan akhirnya sampailah di lndonesia. Bersamaan dengan berkembangnya pengaruh Hindu keseluruh dunia termasuk Indonesia, maka terjadilah alkulturasi antara kebudayaan asli Indonesia dengan kebudayaan India yang dijiwai oleh agama Hindu. Pengaruh agama Hindu dapat diterima oleh bangsa Indonesia dengan damai. Dengan demikian perkembangan agama Hindu di Indonesia menjadi sangat subur dan bervariasi, sebagaimana bukti-bukti yang ada dan kita ketahui, seperti : Kerajaan Kutai, kerajaan Tarumanegara, kerajaan Kaling, kerajaan Majapahit yang merupakan jaman keemasan Agama Hindu di Indonesia.
6.      Asia Tengah dan Asia Timur
1.      Tibet
2.      Cina dan jepang
3.      Afganishtan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar