Puja Ganesha

Om Gam Ganapatye Namaha

Kamis, 05 Juli 2012

Bhuana Agung dan Bhuana Alit


1.      Bhuana Agung
Keberadaan alam semesta atau jagat raya ini diciptakan oleh Brahman. Proses penciptaan Jagat Raya ini terjadi pada masa Srsti. Istilah lain yang sering terpakai untuk menyebutkan Bhuwana Agung adalah alam raya, alam semesta, jagat raya, alam besar, Brahmanda, dan macrocosmos. Bhuwana Agung adalah semua gugusan antara lain : matahari, bintang, planet, bumi, bulan, dan yang menjadi isi alam semesta ini. Pada saat alam semesta ini mengada disebut dengan masa Srsti atau Brahmadiwa (siang hari Brahman). Sedangkan ketika alam semesta ini meniada disebut dengan Pralaya atau Brahmanakta (malam hari Brahman). Dalam perhitungan satu kali Brahmadiwa dan satu kali Brahmanakta disebut dengan satu hari Brahman atau satu Kalpa (lamanya 432 juta Tahun). Penjelasan tentang terciptanya Bhuwana agung sebagai ciptaan Brahman, dapat kita temukan dalam kitab Brhad Aranyaka Upanisad I.1, Brahmanda Purana, Agastya Parwa dan sebagainya.
Kapan sesungguhnya alam semesta ini tercipta, sangat sulit dipastikan, mengingat keterbatasan kemampuan dan umur manusia. Beberapa peneliti dan ilmuwan mencoba untuk membuat teori tentang penciptaan alam semesta tetapi tidak satupun dapat memastikan kapan alam ini tercipta. Menurut  susastra suci Hindu teori penciptaan jagat raya banyak diuraikan yang jika dicermati dan dipelajari dengan penuh keyakinan maka alam semesta ini mengalami keadaan dimana jagat raya ini pernah tidak ada, lalu ada, kemudian tidak ada lagi, demikian seterusnya berulang-ulang. Proses dari tidak ada menjadi ada alam semesta ini berlangsung secara berjenjang, dari jenjang yang amat halus dan tidak berwujud ( gaib / niskala ) sampai pada jenjang yang berwujud dan sangat kasar ( nyata / sekala ). Alam semesta ini mengada melalui proses evolusi yang sangat panjang. Berawal dari kekuatan Tapa-Nya, terciptalah dua kekuatan yang disebut Purusa dan Pradhana.


2.      Pralaya
Pralaya adalah masa dimana alam semesta ini tidak ada. Proses pralaya menurut susastra Hindu digambarkan sebagai berikut ;

1.      Dimulai dari hancurnya ikatan api atau matahari yang kemudian menyebar keseluruh alam semesta.
2.      Dari sebaran api yang sangat dahsyat ini menyebabkan semua zat cair menguap, semua zat pada meleleh kemudian menguap.
3.      Semua mahluk hidup mati dan hancur.
4.      Unsur-unsur Panca Maha Bhuta kembali menjadi atom yang amat halus sekali.
5.      Alam jagat raya dipenuhi hawa panas kemerahan dan dentuman halilintar yang sambung-menyambung dengan dahsyat.
6.      Selanjutnya alam semesta menjadi tidak ada selama satu kalpa atau kurang lebih 432 juta tahun manusia.
7.      Pada saat alam ini tidak ada Brahman menarik kembali semua manifestasi beliau di alam kemudian menjadikan diri dalam wujud sepi, kosong dan hampa. Pada kondisi seperti ini beliau disebut Paramasiwa atau Nirguna Brahman.

3.      Srsti
Menurut Siwa Tattwa, setelah alam ini tidak ada, proses tercipta alam semesta dapat digambarkan sebagai berikut :

1.      Brahman Paramasiwa atau Nirguna Brahma menjadikan diri-Nya Sada Siwa ( Saguna Brahma ) yang berwujud Purusa dan Prakriti .
2.      Purusa adalah unsur dasar kejiwaan atau rohani, sedangkan Prakirti adalah unsur dasar kebendaan atau jasmani. Purusa dan Prakirti keduanya sangat halus dan tidak bisa diamati, tanpa permulaan dan tanpa akhir. Hal ini disebutkan dalam Bhagawad Gita, Bab XIII sloka 20.
3.      Dari Unsur Prakirti lahirlah Triguna yaitu; Sattwam, Rajas, dan Tamas. Sattwam adalah unsur yang bersifat terang dan tenang. Rajas unsur yang memiliki sifat dasar dinamis dan aktif. Sedangkan Tamas adalah unsur yang memiliki sifat dasar gelap dan berat
4.      Perpaduan Purusa dan Prakirti menyebabkan Triguna tidak seimbang. Padamulanya Unsur Sattwam yang mendominasi maka lahirlah yang disebut Mahat yang berarti Maha Agung.
5.      Dari Mahat terciptalah alam Citta yang didalamnya terdiri dari tiga unsur yaitu Budhi, Manah dan Ahamkara yang tercipta secara berurutan.
6.      Alam Citta yang pertama muncul adalah Buddhi, yaitu unsur kejiwaan tertinggi yang berfungsi untuk menentukan keputusan. Budhi bersifat Sattwam sehingga setiap keputusannya bersifat bijaksana.
7.      Dari Buddhi selanjutnya lahir Ahamkara, yaitu benih kejiwaan yang bersifat individu. Fungsinya adalah untuk merasakan. 
8.      Selanjutnya dari Ahamkara lahirlah yang disebut Manas, yaitu akal atau pikiran yang berfungsi untuk berpikir.
9.      Evolusi berikutnya dengan pengaruh Triguna dengan imbangan yang berbeda terciptalah Dasa Indriya, yang terdiri dari :



Panca Buddhindriya terdiri dari:
a. Srotendriya (Indria Pendengar )
b. Twakindriya (Indria Perasa )
c. Caksuindriya (Indria Penglihatan )
d. Jihwendriya (Indria Pengecap )
e. Granendriya (Indria Pencium )


Panca Karmendriya terdiri dari:
a.    Garbhendriya Indria Penggerak Perut )
b.   Panindriya ( Indria Penggerak Tangan )
c.    Padendriya (Indria Penggerak Kaki )
d.   Payundriya ( Indria Penggerak Pelepasan)
e.    Upasthendriya / Bhagendriya ( Indria penggerak kelamin)


10.  Selanjutnya lahirlah Panca Tanmatra yaitu lima unsur zat yang sangat halus terdiri dari :
a. Sabda Tanmatra ( sari suara )
b. Sparsa Tanmatra ( sari rabaan )
c. Rupa Tanmatra ( sari warna )
d. Rasa Tanmatra ( sari rasa )
e. Ganda Tanmatra ( sari bau )


11.  Dari Panca Tanmatra selanjutnya muncul Panca Maha Bhuta , yaitu lima macam unsur zat alam yang bersifat kasar, terdiri dari:
a. Akasa ( ether atau ruang )
b. Wayu ( hawa atau udara )
c. Teja ( api )
d. Apah ( zat cair )
e. Prthiwi ( zat padat )

12.  Dari Panca Maha Bhuta inilah kemudian berkembang menjadi alam semesta beserta isinya yaitu mahluk hidup yang ada di bumi termasuk manusia. Dari uraian di atas jelaslah bahwa semua yang ada di alam ini mengalir dan lahir dari Brahman dan pada saatnya nanti akan kembali lagi ke dalam tubuh-Nya yang menjadi kosong dan hampa.

4.      Sapta Loka dan Sapta Patala
Lapisan menuju ruang jagat raya itu disebut dengan “Sapta Loka”. Sapta loka itu terdiri dari:
1.      Bhur loka (alam manusia)
2.      Bhuwah loka (alam pitara)
3.      Swah loka (alam dewa)
4.      Maha loka
5.      Jana loka
6.      Tapa loka
7.      Satya loka (ruang fakum = Nirguna Brahman)
Sedangkan lapisan menuju panas inti bumi (Kalagni Rudra) disebut “Sapta Patala”. Sapta Patala adalah 7 lapisan menuju panas inti bumi, yang terdiri dari :
1.      Patala (kulit bumi)
2.      Watala
3.      Nitala
4.      Mahatala
5.      Sutala
6.      Tala-tala
7.      Rasa-tala
Setelah lapisan Rasatala menuju Kalagni Rudra masih terdapat satu lapisan lagi yang disebut dengan “Balagadarba Maha Naraka” yaitu ruang perantara di dalam bumi menuju Kalagni Rudra (ruang inti bumi) yang memiliki suhu panas sangat dahsyat. Demikianlah sastra agama menjelaskan tentang asal mula terjadinya unsur-unsur Bhuwana Agung yang pada mulanya bersifat sangat halus. Pada masa “Srsti” dievolusi oleh Brahman sehingga menjadi mengeras, dan pada saat “Pralaya” akan kembali pada sifatnya yang sangat halus itu melalui hukum-Nya yang disebut dengan “Rta”.

5.      Bhuana Alit
Bhuwana alit adalah alam kecil yaitu isi dari jagat raya atau alam semesta ini. Yang dapat kita kelompokkan seperti bumi, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia serta makhluk yang lainnya. Kitab Sveta Svatara Upanisad menjelaskan, sebagai berikut : Rudra setelah menciptakan bumi dengan segala isinya, lalu memberi tangan kepada manusia dan memberi sayap kepada burung-burung. Beliau juga menjadi mata dari semua makhluk, menjadi wadah/muka semua makhluk, menjadikan tangan dari semua makhluk, bahkan menjadi kaki dari semua makhluk.
Jenis – Jenis Mahkluk Hidup di Alam semesta yang tergolong Bhuana Alit adalah:

1.      Kelompok Eka Pramana
Yaitu mahluk hidup yang hanya memiliki satu kekuatan dalam hidupnya yaitu Bayu. Mahluk hidup ini juga dikenal dengan nama Sthawara yaitu mahluk hidup yang tidak berpindah-pindah seperti tumbuhan.
Termasuk dalam golongan Sthawara adalah :
1.      Trna yaitu bangsa rumput baik yang hidup di air maupun di darat.
2.      Lata adalah tumbuhan menjalar di tanah atau di pohon.
3.      Taru yaitu semak dan pepohonan.
4.      Gulma adalah bangsa tumbuhan yang bagian luar pohon berkayu  keras dan bagian dalam berongga atau kosong.
5.      Jangama yaitu tumbuhan yang hidupnya menumpang pada pohon lain.

2.      Kelompok Dwi Pramana
Adalah mahluk hidup yang memiliki dua kekuatan hidup yaitu Bayu dan Sabda. Mahluk ini dikenal dengan nama Satwa atau Sato..
Adapun yang tergolong dalam Sato adalah :
1. Swedaya yaitu binatang bersel Satu.
2. Andaya yaitu binatang bertelur.
3. Jarayuja yaitu binatang menyusui.

3.      Kelompok Tri Pramana
Adalah mahluk hidup yang memiliki tiga kekuatan hidup yaitu; Bayu, Sabda dan Idep. Mahluk ini disebut juga Manusya. Bayu adalah kekuatan nafas, Sabda adalah kekuatan suara dan Idep
kekuatan pikiran. Diantara mahluk hidup hanya manusialah yang memiliki semua unsur ciptaan Brahman secara lengkap. Baik unsur terhalus sampai unsur paling kasar. Yang membedakan antara manusia yang satu dengan yang lain adalah komposisi dan perimbangan unsur-unsur pembentukannya serta Karma Wasana yang telah dibentuknya.

Manusia dan Unsur pembentuknya
Manusia memiliki unsur :
1. Purusa yaitu Atman sebagai sumber kehidupan
2. Pradana terdiri dari :
a.       Suksma Sarira, yaitu badan halus yang berbentuk unsur Citta, Budhi, Manah, Ahamkara, Dasendria, dan Panca Tanmatra. Bentukan hasil Karma manusia antara Suksma Sarira dengan Stula Sarira menghasilkan Panca Maya Kosa yaitu lima lapisan halus badan manusia. Panca Maya Kosa terdiri dari :
1). Annamaya Kosa yaitu badan dari sari makanan
2). Pranamaya Kosa yaitu badan dari sari nafas.
3). Manomaya Kosa yaitu badan dari sari pikiran.
4). Wijnanamaya Kosa yaitu badan dari sari pengetahuan.
5). Anandamaya Kosa yaitu badan dari sari kebahagiaan
b.      Stula Sarira yang berasal dari unsur Panca Maha Bhuta. Dari hasil Karma dan konsumsi makanan manusia membentuk Sad Kosa yaitu enam lapis pembungkus Stula Sarira.
Sad Kosa terdiri dari :
1). Asti ( tulang)
2). Odwad ( Otot )
3). Sumsum ( sumsum)
4). Mamsa ( daging).
5). Rudhira ( darah )
6). Carma ( kulit )
c.       Antah Karana Sarira, yaitu badan penyebab.

Namun menurut filsafat Vedanta, kata manusia berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Manah/Manana/Manu dan Isha. Sehingga dapat dibentuk rumus :
Manusia = Manah + Isha
Manah berarti Pikiran, Isha adalah nama lain untuk Brahman dalam Upanisad. Sehingga Manusia berarti mahkluk yang dapat berpikir yang dihidupi oleh Brahman. Oleh karena itu, manusia pertama menurut Veda adalah Manu. Manu bukanlah nama seseorang. Manu berarti mahkluk yang dapat berpikir.

MANU
Dalam agama Hindu, Manu adalah pemimpin setiap Manwantara, yaitu suatu kurun zaman dalam satu kalpa. Ada empat belas Manwantara, sehingga ada empat belas Manu. Zaman sekarang adalah Manwantara ketujuh dan diperintah oleh Manu ketujuh yang bergelar Waiwaswata Manu.
Manu yang pertama adalah Swayambu Manu, yang dianggap sebagai kakek moyang manusia. Swayambu Manu menikah dengan Satarupa dan memiliki keturunan. Anak cucu dari Manu disebut Manawa (secara harfiah berarti keturunan Manu), merujuk kepada manusia zaman sekarang. Menurut agama Hindu, Swayambu Manu dan Satarupa merupakan pria dan wanita pertama di dunia, sama seperti Adam dan Hawa dalam agama Yahudi, Kristen dan Islam.
Waiwaswata Manu, atau Manu yang sekarang, dikatakan merupakan putra dari Surya (Wiwaswan), yaitu dewa matahari menurut mitologi Hindu. Waiwaswata Manu terlahir pada zaman Satyayuga dan mendirikan kerajaan bernama Kosala, dengan pusat pemerintahan di Ayodhya. Ia memiliki sepuluh anak: Wena, Dresnu (Dresta), Narisyan (Narisyanta), Nabaga, Ikswaku, Karusa, Saryati, Ila, Persadru (Persadra), dan Nabagarista. Dalam kitab Matsyapurana, ia muncul sebagai raja yang menyelamatkan umat manusia dari bencana air bah setelah mendapat pesan dari Wisnu yang berwujud ikan (Matsya Awatara).

Jenis – jenis Manusia

Menurut Veda ada 3 jenis Manusia yaitu :
1.      Pums Prakriti, yaitu jenis manusia dengan kelamin laki – laki
2.      Stri Prakriti, yaitu jenis manusia dengan kelamin perempuan
3.      Tritiya Prakriti, yaitu jenis manusia Banci, dari jenis ini terdapat beberapa bagian yaitu Kliba (Gay), Sraivini (Lesbian), bencong (Shandi)

6.      Hubungan Bhuwana Agung Dengan Bhuwana Alit
Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit memiliki hubungan yang sangat erat satu sama lain. Hubungan itu dapat diuraikan minimal sebagai berikut :

1.      Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit diciptakan oleh pencipta yang sama. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Ida Sang Hyang Widhi pada masa Srsti dan akan kembali kepada-Nya pada masa Pralaya, sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Bhagawad Gita Bab VII, sloka 6.
2.      Bhuwana Agung dan Bhuana Alit memiliki unsur-unsur yang sama. Dalam proses penciptaan meskipun ada perbedaan waktu antara penciptaan alam semesta dengan mahluk yang ada di dalamnya, tetapi unsur-unsur pembentukannya adalah sama.
3.      Bhuwana Agung dan Bhuawana Alit saling melengkapi.  Mahluk hidup diciptakan berada dan berkembang pada alam semesta. Alam dilengkapi dengan berbagai ornament untuk kehidupan dan perkembangan mahluk hidup. Proses saling melengkapi ini telah diatur dengan hukum Brahman ( Rta ). Untuk alam ditata dan diatur dengan hukum alam, seperti rotasi bumi dan matahari, siklus perputaran air ( hidrologi ), siklus perputaran musim dan sebagainya. Sedangkan manusia ditata dan diatur dengan hukum karma yang didalamnya dibekali ilmu pengetahuan dan ajaran agama. Dengan demikian alam akan melengkapi kebutuhan manusia dan manusia erupakan bagian dari alam.
4.      Bhuana Agung dan Bhuana Alit saling mempengaruhi. Karena Bhuana agung dan bhuana alit memiliki unsur-unsur yang sama maka dalam proses hubungannya akan saling mempengarui. Pribadi, budaya masyarakat serta kegiatan fisik manusia sangat dipengaruhi oleh alam. Alam memiliki unsur Triguna juga akan mempengaruhi semua pribadi dan aktivitas manusia. Alam memiliki musim maka manusia akan mengatur hidup dan fisiknya menyesuaikan dengan musim yang ada. Contoh sederhana manusia menciptakan kalender untuk pengaturan bercocok tanam bagi masyarakat agraris. Manusia menciptakan berbagai alat untuk menyesuaikan diri dengan kondisi alam. Matahari serta planet-planet di semesta memiliki jenis guna yang berbeda-beda, perputaran planet-planet ini mempengaruhi posisi kedekatan dengan bumi. Masing-masing posisi ini akan memberikan pengaruh yang berbeda pada manusia di bumi. Sehingga di Bali kita mengenal pedewasan ( hari baik/buruk untuk aktivitas tertentu) yang bersumber pada pengaruh guna masing-masing posisi planet tersebut. Sebaliknya segala aktivitas manusia juga dapat mempengaruhi kondisi alam. Kondisi sekarang dengan ulah sebagian manusia yang merusak alam dan membabat habis hutan menyebabkan rusaknya siklus perputaran air. Pembangunan yang tidak memperhitungkan tata lingkungan menyebabkan bencana alam banjir dan kebakaran. Penggunaan zat kimia yang merusak lapisan ozon dan polusi dari hasil pembakaran yang dilakukan manusia menciptakan rumah kaca sehingga terjadi pemanasan global. Intinya bahwa aktivitas manusia dipengaruhi oleh alam dan sebaliknya aktivitas manusia tersebut akan mempengaruhi alam.

1 komentar:

:)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} ~x( :-t b-( :-L x( =))